Selasa, 06 Desember 2011

Twin City - Cool!!

Senin 7 November 2011, hari terakhir saya menghabiskan waktu di Minnesota-Minneapolis (Twin City), Amerika. Saya pikir Denver, Colorado sudah paling dingin, ternyata ketika saya menapakan kaki di Minneapolis, Astagfirullah!! lebih dingin!. Dinginnya, seperti dimasukan ke kulkas bersuhu terendah (ga lebay loh! catet..! hahha). Alhamdulillah beberapa hari disini, membuat otak saya klimaks untuk terus berpacu mencapai mimpi. Gak heran. Karena bagi saya klimaks saya mendapatkan ilmu jurnalisme dan sebagainya, di kota ini.

Mississippi river, itulah yang terlintas pertama kali ketika saya mendengar kota ini. Selama ini saya hanya mendengar cerita tentang Mississippi river, tapi sekarang saya melihat langsung sungai ini. Sungguh indah, MashaAllah. Dari dalam bis saya melihat begitu panjang dan indah nya sungai ini. sekitarnya di kelilingi pohon-pohon yang daunnya sudah berubah menjadi warna kuning cantik tanda musim gugur. Subhanallah.. kekuasaan ALLAH memang dahsyat, DIA ciptakan berbagai musim dengan segala kelebihannya. Bahkan musim yang di bilang gugur pun, tetap membawa keindahan.

Sampailah saya bersama ke 9 rekan saya lainnya, plus 2 LO ke sebuah hotel di kota Minneapolis. Radisson hotel namanya. Subhanallah, lagi-lagi terlontar dari mulut saya, ketika baru saja saya masuk kamar, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.."Yaa.. wait.." saut saya keitka mendengar ketukan pintu. Seketika, "Assalamualaikum, sorry, this is our compliment to you .." ucap seorang bell boy, berkulit coklat matang dan sudah paruh baya, sambil menyerahkan dua buah coklat. "You are moslem, right?" tanyanya kepada saya. "Yes.. i'm moslem" jawab saya sambil melempar senyum kepada bapak tersebut. "Alhamdulillah, I am Ahmad from Ethopia. Nice to meet you" papar Ahmad. "oo.. I am Riri from Indonesia, nice to meet you too" sambut saya.

Setelah pertemuan dengan Ahmad tersebut, saya sempat sebentar merenung tentang apa yang baru saja terjadi barusan. Saya jadi teringat pesan-pesan kawan-kawan saya sebelum berangkat ke Amerika, "Ri, take care, karena loe berjilbab", "Baik-baik ya, takutnya nanti disana loe ditanya macem-macem" dan sebagainya, yang pada intinya kekhawatiran yang berlebihan atas saya, karena hijab saya. Sungguh ALLAH sebaik-baik pelindung, selama di Amerika justru apa yang di khawatirkan kawan-kawan saya justru tak terjadi. Alhamdulillah.

Pagi itu nampak cerah dan lebih dingin. Saya bersama kawan-kawan fellows lainnya berengkat dengan semangat menuju School  of Journalism & Mass Communication, University of Minneasota. Wah, benar-benar luar biasa. Setibanya disana, saya melihat luar biasanya universitas ini. Edukasi memang betul-betul menjadi prioritas disini. bukan saja persoalan sistem tapi juga segala infrastruktur dan sarana semua terperhatikan dengan sangat baik. Kualitas itu di dukung dengan tenaga pengajar yang benar-benar ga asal. Semua benar-benar kompeten dengan bidangnya. dan satu hal lagi yang membuat saya terkesima, dalam diskusi hari pertama dan kedua, panelis dengan kandidat Prof dan DR semua adalah perempuan. Wow.. semoga Indonesia mempunyai banyak wanita-wanita yang semakin berdaya.

Hari pertama, diskusi diisi dengan isu-isu mengenai imigran dan soal transportasi. Tadinya saya berpikir, wah buat apa ney saya ikut sesi tentang transportasi? ga nyambung.. Tapi akhirnya saya pikir ada baiknya saya ikuti juga, berhubung saya tinggal di Jakarta, at least nanti saya tahu bagaimana mengatasi sistem transportasi Jakarta yang semerawut ga jelas. Sedikit ilmu mudah-mudahan bermaanfaat nanti nya selepas saya kembali ke tanah air.

Tidak lama setelah sesi diskusi pertama selesai. Saya kembali melanjutkan sesi berikutnya. Nah ini yang ga kalah seru. Melihat mereka yang presentasi, adalah para Professor sekaligus jurnalis perempuan. Ada satu diantara mereka yang masih muda 37 tahun sudah Professor. MashaAllah, melihat kondisi tersebut, saya terpacu, untuk segera mengambil program Master Degree, biar makin banyak dey wanita potensial di Indonesia. Sesi kali ini, banyak di bahas mengenai etika jurnalisme terutama dalam pesatnya sosial media, advertising dan bisnis dalam sudut pandang jurnalisme. Gokil!! itu kesan saya selama di University of Minnesota. Soalnya saya benar-benar seperti kuliah selama di sana. dapat ilmu ga tanggung-tanggung lagi, dari ahlinya. Selesai semua sesi diskusi selanjutnya, saya beranjak menuju salah satu radio di Minnesota. Minnesota Public Radio, itulah nama salah satu radio yang disubsidi keberadaannya oleh pemerintah setempat. Yang menjadi catatan saya adalah, meski MPR merupakan radio milik pemerintah, wuihh tapi keberadaan nya keren banget loh!. Semua sistem radi yang di gunakan, benar-benar high tech. Suasana kantor di buat sedemikian nyaman, agar para karyawan dan tamu betah berada disana. Wahh.. saya terkesima. Satu hal juga yang membuat saya terkejut, mereka mempunyai studio rekaman yang bisa di rental untuk mereka para pemain orkestra jika mau membuat album. Keren!!!.

Satu hal yang ga akan pernah saya lupakan selama masa job shadowing, Sasha, seorang producer dan reporter senior di MPR sekaligus mentor saya, mengajak untuk melakukan interview seorang lesbian yang sudah tinggal bersama satu rumah selama hampir 14 tahun. Mereka bernama Sarra dan Ailin. Interview tersebut dilakukan dalam rangka meminta pendapat mereka seputar undang-undang perkawinan sesama jenis yang masih dalam perdebatan di Minnesota. Isu perkawinan sesama jenis ini mengundang pro dan kontra diantara masyarakat. Pertemuan saya dengan Sarra dan Ailin, hanya membuat saya terbengong-bengong. Karena memang saya tidak pernah melihat sebelumnya bagaimana orang sesama jenis mengikrarkan diri untuk hidup bersama, dan berbahagia hingga 14 tahun komitmennya. Sarra dan AIlin hanya tersenyum melihat saya, sambil sempat mengatakan "Sorry, Riri we knew it made you shock", saya hanya bisa menjawab,"oohh..okay no worries.." dengan tergagap-gagap. Saya gak akan pernah lupa pengalaman yang satu ini. Ini pertama kalinya saya melihat dengan mata kepala saya sendiri seorang lesbian hidup bersama dan nampak terlihat bahagia. terlepas kontriversinya, saya hanya bisa menghargai pilihan Sarra dan Ailin. Untuk beberapa engara-negara bagian di Amerika, memang perkawinan sesama jenis sudah di perbolehkan, meskipun di sebagian lain, tidak mengijinkan.

Setelah mengalami suatu pengalaman yang tidak biasa bagi saya. Saatnya saya menikmati satu sesi yang lain yang tak kalah menarik dan menyenangkan. Ya, home hospitality. Sesi ini adalah program kunjungan kami ke rumah warga lokal / setempat. Serunya ketika berbincang dengan mereka. berbincang-bincang dengan warga setempat justru merupakan suatu ajang yang paling efektif untuk menciptakan mutual understanding antara masyarakat Amerika dengan masyarakat dunia. Sungguh sangat berkesan.

Ada sey pengalaman seru lainnya dimana saya dan kawan-kawan fellows yang lain, melihat perayaan Pow wow, sebuah perayaan bagi warga negara Amerika untuk mengingat kembali bahwa mereka adalah keturunan Indian. Pow Wow ini semacam perayaan yang penuh arti bagi sebagian warga negara Amerika. Semua di tampilkan dengan gaya indian. semua menari dan bernyanyi ala indian. MasyaAllah, keren banget saya melihatnya. Hebatnya ALLAH bisa menciptakan manusia dengan segala peradabannya.

Ice hockey menjadi salah satu permainan yang banyak mengundang minat kawan-kawan saya. sayang pada saat Ice hockey ini saya tidak bisa melihat game yang satu ini, karena alergi saya makin parah. Alhasil cuma bisa denger cerita temen-temen aja dey, yang katanya itu permainan seru banget dan membutuhkan konsentrasi tinggi, selain tempatnya dingin banget pastinya. Heheheh...

Twin city, Minnesota-Minneapolis, meninggalkan kesan yang sangat indah bagi saya. pembelajaran, bahagia, dan sebagainya saya dapatkan secara menyeluruh. Diakhir yang sangat membahagiakan bagisaya, ketika Direktur School of Journalism & Mass Communication, Dr. Al Tims memberikan sertifikat kursus singkat jurnalisme selama di Universty of Minnesota. Indahnya...

Kisah memang tidak akan pernah habis, sepanjang kita mau memperhatikan dan kemudian mengingat serta kembali menuliskan nya dengan tuturan cerita. Begitupun kisah saya dan 9 rekan fellows lainnya, banyak cerita yang ingin kita sampaikan, tapi kali ini sampai disini aja ya.. berikutnya masih ada cerita lagi ko, yang inshaAllah ga kalah seru. Sekarang waktunya tidur karena sudah larut malam di New York, dan besok mesti mempersiapkan tenaga dan waktu yang padat merayap sechedulle nya. Last but not least, Thank you so much, Minnesota!!

Manhattan, New York, 8 November 2011, 11.55pm

0 komentar: