Senin 7 November 2011, hari terakhir saya menghabiskan waktu di
Minnesota-Minneapolis (Twin City), Amerika. Saya pikir Denver, Colorado
sudah paling dingin, ternyata ketika saya menapakan kaki di
Minneapolis, Astagfirullah!! lebih dingin!. Dinginnya, seperti dimasukan
ke kulkas bersuhu terendah (ga lebay loh! catet..! hahha). Alhamdulillah
beberapa hari disini, membuat otak saya klimaks untuk terus berpacu
mencapai mimpi. Gak heran. Karena bagi saya klimaks saya mendapatkan
ilmu jurnalisme dan sebagainya, di kota ini.
Mississippi
river, itulah yang terlintas pertama kali ketika saya mendengar kota
ini. Selama ini saya hanya mendengar cerita tentang Mississippi river,
tapi sekarang saya melihat langsung sungai ini. Sungguh indah,
MashaAllah. Dari dalam bis saya melihat begitu panjang dan indah nya
sungai ini. sekitarnya di kelilingi pohon-pohon yang daunnya sudah
berubah menjadi warna kuning cantik tanda musim gugur. Subhanallah..
kekuasaan ALLAH memang dahsyat, DIA ciptakan berbagai musim dengan
segala kelebihannya. Bahkan musim yang di bilang gugur pun, tetap
membawa keindahan.
Sampailah saya bersama ke 9 rekan saya
lainnya, plus 2 LO ke sebuah hotel di kota Minneapolis. Radisson hotel
namanya. Subhanallah, lagi-lagi terlontar dari mulut saya, ketika baru
saja saya masuk kamar, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.."Yaa.. wait.." saut saya keitka mendengar ketukan pintu. Seketika, "Assalamualaikum, sorry, this is our compliment to you .." ucap seorang bell boy, berkulit coklat matang dan sudah paruh baya, sambil menyerahkan dua buah coklat. "You are moslem, right?" tanyanya kepada saya. "Yes.. i'm moslem" jawab saya sambil melempar senyum kepada bapak tersebut. "Alhamdulillah, I am Ahmad from Ethopia. Nice to meet you" papar Ahmad. "oo.. I am Riri from Indonesia, nice to meet you too" sambut saya.
Setelah
pertemuan dengan Ahmad tersebut, saya sempat sebentar merenung tentang
apa yang baru saja terjadi barusan. Saya jadi teringat pesan-pesan
kawan-kawan saya sebelum berangkat ke Amerika, "Ri, take care, karena loe berjilbab", "Baik-baik ya, takutnya nanti disana loe ditanya macem-macem"
dan sebagainya, yang pada intinya kekhawatiran yang berlebihan atas
saya, karena hijab saya. Sungguh ALLAH sebaik-baik pelindung, selama di
Amerika justru apa yang di khawatirkan kawan-kawan saya justru tak
terjadi. Alhamdulillah.
Pagi itu nampak cerah dan lebih
dingin. Saya bersama kawan-kawan fellows lainnya berengkat dengan
semangat menuju School of Journalism & Mass Communication,
University of Minneasota. Wah, benar-benar luar biasa. Setibanya disana,
saya melihat luar biasanya universitas ini. Edukasi memang betul-betul
menjadi prioritas disini. bukan saja persoalan sistem tapi juga segala
infrastruktur dan sarana semua terperhatikan dengan sangat baik.
Kualitas itu di dukung dengan tenaga pengajar yang benar-benar ga asal.
Semua benar-benar kompeten dengan bidangnya. dan satu hal lagi yang
membuat saya terkesima, dalam diskusi hari pertama dan kedua, panelis
dengan kandidat Prof dan DR semua adalah perempuan. Wow.. semoga
Indonesia mempunyai banyak wanita-wanita yang semakin berdaya.
Hari
pertama, diskusi diisi dengan isu-isu mengenai imigran dan soal
transportasi. Tadinya saya berpikir, wah buat apa ney saya ikut sesi
tentang transportasi? ga nyambung.. Tapi akhirnya saya pikir ada baiknya
saya ikuti juga, berhubung saya tinggal di Jakarta, at least
nanti saya tahu bagaimana mengatasi sistem transportasi Jakarta yang
semerawut ga jelas. Sedikit ilmu mudah-mudahan bermaanfaat nanti nya
selepas saya kembali ke tanah air.
Tidak lama setelah sesi
diskusi pertama selesai. Saya kembali melanjutkan sesi berikutnya. Nah
ini yang ga kalah seru. Melihat mereka yang presentasi, adalah para
Professor sekaligus jurnalis perempuan. Ada satu diantara mereka yang
masih muda 37 tahun sudah Professor. MashaAllah, melihat kondisi
tersebut, saya terpacu, untuk segera mengambil program Master Degree,
biar makin banyak dey wanita potensial di Indonesia. Sesi kali ini,
banyak di bahas mengenai etika jurnalisme terutama dalam pesatnya sosial
media, advertising dan bisnis dalam sudut pandang jurnalisme. Gokil!!
itu kesan saya selama di University of Minnesota. Soalnya saya
benar-benar seperti kuliah selama di sana. dapat ilmu ga
tanggung-tanggung lagi, dari ahlinya. Selesai semua sesi diskusi
selanjutnya, saya beranjak menuju salah satu radio di Minnesota. Minnesota Public Radio,
itulah nama salah satu radio yang disubsidi keberadaannya oleh
pemerintah setempat. Yang menjadi catatan saya adalah, meski MPR
merupakan radio milik pemerintah, wuihh tapi keberadaan nya keren banget
loh!. Semua sistem radi yang di gunakan, benar-benar high tech.
Suasana kantor di buat sedemikian nyaman, agar para karyawan dan tamu
betah berada disana. Wahh.. saya terkesima. Satu hal juga yang membuat
saya terkejut, mereka mempunyai studio rekaman yang bisa di rental untuk
mereka para pemain orkestra jika mau membuat album. Keren!!!.
Satu
hal yang ga akan pernah saya lupakan selama masa job shadowing, Sasha,
seorang producer dan reporter senior di MPR sekaligus mentor saya,
mengajak untuk melakukan interview seorang lesbian yang sudah tinggal
bersama satu rumah selama hampir 14 tahun. Mereka bernama Sarra dan
Ailin. Interview tersebut dilakukan dalam rangka meminta pendapat mereka
seputar undang-undang perkawinan sesama jenis yang masih dalam
perdebatan di Minnesota. Isu perkawinan sesama jenis ini mengundang pro
dan kontra diantara masyarakat. Pertemuan saya dengan Sarra dan Ailin,
hanya membuat saya terbengong-bengong. Karena memang saya tidak pernah
melihat sebelumnya bagaimana orang sesama jenis mengikrarkan diri untuk
hidup bersama, dan berbahagia hingga 14 tahun komitmennya. Sarra dan
AIlin hanya tersenyum melihat saya, sambil sempat mengatakan "Sorry, Riri we knew it made you shock", saya hanya bisa menjawab,"oohh..okay no worries.."
dengan tergagap-gagap. Saya gak akan pernah lupa pengalaman yang satu
ini. Ini pertama kalinya saya melihat dengan mata kepala saya sendiri
seorang lesbian hidup bersama dan nampak terlihat bahagia. terlepas
kontriversinya, saya hanya bisa menghargai pilihan Sarra dan Ailin.
Untuk beberapa engara-negara bagian di Amerika, memang perkawinan sesama
jenis sudah di perbolehkan, meskipun di sebagian lain, tidak
mengijinkan.
Setelah mengalami suatu pengalaman yang tidak
biasa bagi saya. Saatnya saya menikmati satu sesi yang lain yang tak
kalah menarik dan menyenangkan. Ya, home hospitality. Sesi ini adalah
program kunjungan kami ke rumah warga lokal / setempat. Serunya ketika
berbincang dengan mereka. berbincang-bincang dengan warga setempat
justru merupakan suatu ajang yang paling efektif untuk menciptakan
mutual understanding antara masyarakat Amerika dengan masyarakat dunia.
Sungguh sangat berkesan.
Ada sey pengalaman seru lainnya
dimana saya dan kawan-kawan fellows yang lain, melihat perayaan Pow wow,
sebuah perayaan bagi warga negara Amerika untuk mengingat kembali bahwa
mereka adalah keturunan Indian. Pow Wow ini semacam perayaan yang penuh
arti bagi sebagian warga negara Amerika. Semua di tampilkan dengan gaya
indian. semua menari dan bernyanyi ala indian. MasyaAllah, keren banget
saya melihatnya. Hebatnya ALLAH bisa menciptakan manusia dengan segala
peradabannya.
Ice hockey menjadi salah satu permainan yang
banyak mengundang minat kawan-kawan saya. sayang pada saat Ice hockey
ini saya tidak bisa melihat game yang satu ini, karena alergi saya makin
parah. Alhasil cuma bisa denger cerita temen-temen aja dey, yang
katanya itu permainan seru banget dan membutuhkan konsentrasi tinggi,
selain tempatnya dingin banget pastinya. Heheheh...
Twin
city, Minnesota-Minneapolis, meninggalkan kesan yang sangat indah bagi
saya. pembelajaran, bahagia, dan sebagainya saya dapatkan secara
menyeluruh. Diakhir yang sangat membahagiakan bagisaya, ketika Direktur
School of Journalism & Mass Communication, Dr. Al Tims memberikan
sertifikat kursus singkat jurnalisme selama di Universty of Minnesota.
Indahnya...
Kisah memang tidak akan pernah habis,
sepanjang kita mau memperhatikan dan kemudian mengingat serta kembali
menuliskan nya dengan tuturan cerita. Begitupun kisah saya dan 9 rekan
fellows lainnya, banyak cerita yang ingin kita sampaikan, tapi kali ini
sampai disini aja ya.. berikutnya masih ada cerita lagi ko, yang
inshaAllah ga kalah seru. Sekarang waktunya tidur karena sudah larut
malam di New York, dan besok mesti mempersiapkan tenaga dan waktu yang
padat merayap sechedulle nya. Last but not least, Thank you so much, Minnesota!!
Manhattan, New York, 8 November 2011, 11.55pm
0 komentar:
Poskan Komentar