2 minggu sudah saya melewati pengalaman yang sangat membahagiakan
dalam hidup saya. Bisa datang ke sebuah negeri adidaya, yang kebijakan
nya mempunyai pengaruh besar dalam oraganisasi dunia PBB (Persatuan
Bangsa-Bangsa), ya inilah Amerika. "keberadaan" negeri ini memang sangat
kontroversial, terutama bagi masyarakat muslim. Kebijakan-kebijakan
negeri ini memang dipandang oleh sebagain besar masyarakat muslim,
sangat menyudutkan masyarakat muslim itu sendiri. Saya sempat berbincang
dengan salah satu kawan saya, yang juga mengikuti program IVLP for
Journalist, Ehab Husein, salah satu Phd dari Universitas Alexandria,
Mesir, bahwa menurutnya sebagai akademisi, Amerika hanya memanfaatkan
kepentingan dari kerusuhan yang terjadi di Mesir ketika penuntutan atas
Hoesni Mubarak terjadi. Begitupun pandangan kawan saya Ali, Jurnalis
dari koran terbesar di Yaman, dalam pandangannya atas nama demokrasi,
Amerika selalu "bisa" mengintervensi negara-negara lain. Namun saya
pikir pandangan itu akan berubah ketika saya menanyakan kepada kawan
saya Titania, Jurnalis Denmark, ternyata pandangan nya atas Amerika,
tetap sama.
Hmm... saya mencoba memahami pandangan mereka
dalam melihat sosok Amerika dan keberadaannya di Timur Tengah maupun
dunia internasional. Memang tidak bisa dipungkiri adanya black perception atas
Amerika. Tapi saya disini tetap akan menyampaikan beberapa hal yang
mungkin sangat bermanfaat bagi saya dan juga anda untuk mempelajari sisi
lain (kebaikan) dari negeri ini.
Selama 2 minggu saya
tidak hanya menghabiskan waktu saya di DC, tapi juga di Denver, Colorado
dan Minneapolis, Minnesota. Ada beberapa kesamaan di antara 3 area di
Amerika ini.
1. Amerika banyak memiliki museum, terutama
di DC. dan saya lihat besarnya antusias masyarakat untuk pergi ke
museum. dari beberapa pertanyaan singkat saya dengan beberapa
pengunjung, apa yang meneyebabkan mereka suka ke museum, secara umum dan
merupakan main reason adalah, agar mengetahui sejarah. Saya
melihat bangsa ini sangat meghargai sejarah. Tak heran bangsa ini
menjadi besar. Ketika saya melakukan kunjungan ke Colorado Academy,
mereka mempunyai studi tentang sejarah dunia, dan ternyata studi
tersebut menjadi salah satu studi yang di minati. Ketika saya dan
bersama IVLP fellows mendapatkan kesempatan menceritakan negara kita
masing-masing di hadapan anak umur 9-14 tahun, wow sangat membuat kagum.
sebagian dari mereka aktif bertanya, apa pandangan saya dan rekan
lainnya soal demonstrasi di Mesir, bagaimana pemerintah mempunyai
peranan dalam kemerdekaan jurnalisme di Kamboja dan pertanyaan lainnya.
Sungguh bagi saya ini salah satu yang mengagumkan, karena saya tidak
pernah menemui hal semacam ini di Indonesia. Tentunya ini menjadi PR
juga bagi pemerintah kita untuk mengembangkan sistem edukasi yang tidak
sekedar menyenangkan (Story telling) tapi juga benar-benar membangkitkan
semangat kebangsaan dan menjadi pemain global dalam kancah
internasional.
2. Masyarakat disini sangat pintar
memanfaatkan waktu. Ketika saya melakukan perjalanan ke Pentagon City
menggunakan Metro trans, semacam kereta bawah tanah, saya melihat hampir
di setiap sudut mereka menggunakan waktu dengan membaca buku, ketika
mereka menunggu metro trans ataupun selama dalam perjalanan. Entah itu
buku apa yang mereka baca, mungkin buku fiksi ataupun non fiksi, mungkin
juga koran, namun saya melihat mereka memanfaatkan dengan membaca.
Memang tidak semua, but mostly,
mereka membaca. Tidak heran juga bangsa ini kaya akan pengetahuan.
3.
Segala fasilitas publik sangat memperhatikan orang-orang berkebutuhan
khusus. Tidak ada sulit bagi mereka ketika mereka ingin menggunakan
fasilitas publik. Tidak hanya itu, segala fasilitas publik pun di buat
semudah dan sefamiliar mungkin bagi masyarakat maupun turis, sehingga di
harapkan tidak ada tuh kata "nyasar" di sudut jalan Amerika.
4.
Mereka sangat menghargai perbedaan. Dari kunjungan saya ke DC, Denver
sampai dengan Minneapolis, saya melihat masyarakat Amerika, sangat
menghargai perbedaan. Ini bukan hanya cerita karangan saja, namuan
memang begitulah faktanya. Ketika saya berkesempatan datang ke
Department of State of America, salah satu fasilitator IVLP program dari
Department of State of America adalah wanita berjilbab. Kemudian ketika
saya berkunjung ke Graduate School di DC, fasilitator saya yang
berbicara mengenai pandangan jurnalisme terhadap politik Amerika, Mr.
Akram Jalil, dia juga seorang muslim. Bahkan ketika saya membuat cerita
ini pun, saya melihat satu tayangan televisi show (In diversity focus)
di Minnesota (TPT) host dari program ini adalah seorang warga keturunan
India. Sungguh sangat beragam. Jadi tidak benar ketika kita melihat
Amerika secara keseluruhan, kita mengklaim bahwa mereka tidak menghargai
perbedaan. Banyak program dan kebijakan pemerintah yang memperhatikan
masyarakat imigran di Amerika. Bagaimana hak-hak mereka dan sebagainya.
Oia, satu hal yang juga ingin saya sampaikan, ketika saya melakukan
program home hospitality (program pengenalan masyarakat lokal dengan
pendatang) satu keluarga di Denver, anak perempuannya belajar bahasa
arab dan mempelajari Islam. Ketika saya datang kepada mereka, mereka
sungguh sangat senang dan interaksi diantara kami sungguh hangat,
layaknya datang ke sebuah keluarga.
5. Untuk hal yang satu
ini mungkin bukan hal yang baru di telinga anda. Bagaimana mereka
sangat menghargai lingkungan. Semua berkomitmen untuk menjaga
lingkungan. Dan hampir semua fasilitas, di usahakan ramah lingkungan.
Masih
banyak pembelajaran yang bisa saya ambil dari sebuah negara yang di
kenal dengan nama "Amerika". Dengan segala lebih dan kurangnya, saya
tetap mau melihat sisi baik yang bisa saya pelajari at least bagi diri
saya sendiri. Bukan suatu kebetulan saya berkesempatan melihat bumi
ALLAH yang lainnya selain Indonesia. Dalam kunjungan saya ini pun saya
bisa mempunyai kesempatan untuk memperkenalkan Indonesia, dari berbagai
sudut, kebebasan pers, budaya, keberagaman dan sebagainya. Sungguh saya
sangat menikmati ketika saya berkesempatan untuk memperkenalkan
Indonesia di berbagai forum yang saya ikuti selama program IVLP.
Inilah
sebagian cerita yang ingin saya sharingkan kepada anda. terlepas anda
suka atau tidak, saya hanya ingin menyampaikan bahwa banyak yang kita
pelajari dari negara adidaya ini. Yang baik ambil, yang tidak,
tinggalkan!. Jangan kita berkutat pada persoalan menyukai atau tidak,
kemudian menutup diri dan pikiran kita untuk belajar dari Amerika.
Semoga keterbukaan itulah yang membuat kita dan bangsa kita (Indonesia)
nantinya menjadi besar. Seringkali kita sibuk mengurusi dan mengoreksi
yang lain, tapi kita lupa untuk membenahi kondisi diri sendiri ataupun
negeri ini. Pesan ini pun saya tujukan bagi sahabat-sahabat dan saudara
muslim saya yang lain.
Di akhir coba baca dan pahami kata-kata Guru saya, Prasetya M. Brata di bawah ini :
Aku
punya DETERJEN yang aku sukai dan aku yakini yang membersihkan paling
bersih. Bahkan deterjen itu aku tenteng kemana-mana dengan bangga.
Apalagi kalau ketemu orang yang nenteng2 deterjen yang sama, makin
senang dan bergairahlah aku membicarakan tentang deterjen kami. Semua
orang kalau bisa kuanjurkan pakai merek deterjen yang kubawa. Dulu aku
kurang suka pada deterjen merek lain, sekarang sihberpegang pada
'bagiku deterjenku bagimu deterjenmu'. Begitu petang datang, saatnya
pulang. Aku terkejut, pakaianku kotor sekali. Padahal rumahku Maha Suci.
Setiap orang yang pulang ke rumah itu haruslah berpakaian bersih. Aku
menyesal, karena kerjaku sepanjang hari hanya membicarakan dan mengajak
orang lain pakai merek deterjen yang kubawa, tapi aku lupa memakai
deterjen itu untuk mencuci pakaianku sendiri ...
Denver - Colorado, 25 Oktober 2011
0 komentar:
Poskan Komentar