Jumat, 22 April 2011

Wanita, Hijab dan Rokok

Selasa, 5 April 2011, sekitar pukul 19.20, “menarik” perhatian saya. Ketika saya di ajak kawan kantor untuk mampir ke suatu tempat di kawasan Jakarta selatan, sekedar untuk melepaskan penat karena aktivitas yang lumayan padat dan menghilangkan rasa “ngidam” nya akan makanan yang bikin klenger, alias burger, tidak jauh dari tempat saya duduk, saya melihat sosok wanita cantik, manis dan ia berhijab. Lantas apa yang “menarik” perhatian saya? Agak terkejut ketika saya melihat ada sebatang rokok menempel di sela-sela jemarinya. Perlahan saya amati betapa nikmat dan tenangnya ia mengisap rokok yang ada di tangannya di depan umum sambil bercengkrama dengan kawan-kawannya. Hmm.. entah mengapa, saya agak terusik dengan tingkah wanita ini. Meski saya tahu, merokok adalah hak masing-masing orang, tapi nampak tak pas saja pemandangan itu di mata saya, terlebih ada orang di sebelah saya terdengar mengatakan “itu cewek pake jilbab ko ngerokok ya?”, dan lantas teman di sebelah nya menjawab “makanya sekarang ga jamin, cewe jilbab, kadang cuma kedok doang ato cuma ikut trend..”. Bisikan itu semakin membuat saya kurang nyaman berada di tempat tersebut.
Kawan saya bingung, melihat saya hanya menatap 1 titik saja, tak berkedip dengan wajah penuh keheranan. “Kenapa Mba Rie, bengong gitu” tanya kawan saya, “hmm.. nggak itu cewek ko asyik banget ya, berhijab, kemudian ngerokok dengan santai pula didepan umum” jawab saya. “Ya ampun, udah sey mba, santai aja..” . Namun sayang, saya kurang bisa santai melihat hal ini. Risih, Ironi, karena saya berhijab dan kawan saya pun berhijab. Saya terpanggil untuk melakukan sesuatu, sekedar untuk mengingatkan. Untunglah saya punya jeda untuk berpikir apa yang ingin saya lakukan melihat kejadian tersebut. Tidak lama, setelah saya berpikir apa yang ingin saya lakukan, saya memutuskan untuk menulis di secarik kertas untuk wanita tersebut..”Mba yang baik dan cantik, mohon maaf sekali, sekiranya mba berkenan, mohon tidak merokok di depan umum ya, kurang pas rasanya.. :) ” sambil memberikan senyuman di akhir tulisan. Dengan bismillah dalam hati, saya meminta tolong waitress untuk memberikan kertas itu kepada wanita tersebut.
Pandangan saya belumlah beralih kearah lain. Saya masih menunggu respon wanita itu. Tidak lama, wanita itu menengok kearah saya dan melemparkan senyuman sambil memberikan jempol. Ia pun langsung mematikan rokoknya dan melanjutkan perbincangan bersama kawan-kawannya. “Alhamdulillaahh..” gumam saya dalam hati sambil mengelus dada, dan membalas senyum wanita itu. Saya hanya berpikir, semoga saja senyum dan acungan jempolnya, merupakan tanda ia menerima apa yang saya sampaikan melalui secarik kertas tersebut. Tidak lama setelah itu, saya bersama kawan saya beranjak pergi dari tempat tersebut karena sudah cukup malam bagi kami berdua dan sudah cukup pula bagi kami menghilangkan penat ini. Kami beranjak pulang, dan meninggalkan tempat itu dengan senyum, sungguh indah.
Wahai sahabat ku yang baik, sekilas cerita diatas semoga bisa di cerna dengan baik oleh sahabat semua. Bisa jadi apa yang saya lakukan kepada wanita tersebut, salah menurut sahabat semua, atau bisa jadi benar. Namun terlepas dari benar atau tidaknya yang saya lakukan, saya hanya ingin menyampaikan bahwa adalah tanggung jawab kita semua (terutama para muslimah) untuk menjaga kesantunan dalam Islam. Saya pribadi meyakini, ketika saya menjaga kesantunan dan hijab saya, sesungguhnya saya tidak hanya menjaga harga diri saya sendiri, tapi juga saudari-saudari muslimah lainnya yang juga mengenakan hijab, dan lebih dari pada itu menjaga nama baik ISLAM. Sekali saja saya berbuat atau bertingkah di luar koridor kebaikan dan kesantunan, orang lain bukan hanya menilai diri saya sendiri, tapi ironi nya juga men-generalisasi wanita muslimah lainnya. Contoh seperti kasus diatas tadi, mungkin hanya satu orang wanita berhijab yang “merokok”, tapi orang lain langsung berpendapat “sekarang hijab hanya jadi kedok saja, dan ga jaminan”, hanya karena 1 orang, semua wanita berhijab bisa jadi sasaran salah nya. Ibarat gara-gara nila setitik, rusaklah susu sebelanga.
Wahai sahabat ku yang baik, saya sangat mahfum, jika ada pendapat “ya itu kan hak masing-masing orang, mau melakukan apapun”, namun bijak nya betapa kita masih punya beribu alasan atau pilihan untuk memilih hal yang lebih baik, ya kan?. Pun saya masih sangat jauh dari sebuah kesempurnaan sebagai seorang muslimah yang mungkin dinilai baik. Namun selayaknya lah mari sama-sama kita terus saling mengingatkan dan mengupgrade diri menjadi pribadi yang lebih baik dari kemarin, menjaga diri sendiri, dan juga Islam. Memang tidak mudah, namun bukan pula sesuatu yang sulit, jika kita terus berusaha. Karenanya puncak dari kenikmatan bagi saya salah satunya adalah ketika mencapai titik kebaikan, karena jalan menuju nya, penuh dengan rintangan dan tidak jarang juga menerima cibiran dan sindiran.
Wahai sahabat ku yang baik, Tak ada niatan bagi saya untuk menunjukan atau memamerkan sebuah ketaataan atau kesantunan. Semua akan menjadi tak ada arti, semu dan penuh fatamorgana ketika saya menyampaikan hal ini dengan jubah penuh ke-RIYA-an. Harapan saya hanya satu, semoga melalui tulisan ini, sahabat semua mendapatkan insight yang lebih baik, dan mempunyai rasa prihatin yang besar terhadap Islam. Saya mulai merenungi, bahwa seringkali saya prihatin berlebihan pada hal-hal duniawi, namun apakah sama keprihatinan saya terhadap kemunduran islam?, semoga hal ini bisa menjadi perenungan yang sama bagi sahabat-sahabat semua. Once, we are representative of Islam.
Demi masa.. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran..
(QS: Al- Ashr 1-3)
Salam,
-Rie-
Diiringi bunyi rintik hujan...
Ciputat, Jum’at 22 April 2011, 14:31

1 komentar:

Saiful mengatakan...

Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Mba Riri Artakusumah,
Senang rasanya bisa membaca blog Anda, khususnya tentang hal terkait dg judul tersebut.
Dari uraian Mba,buat Saya sudah pas betul dan Saya sepakat dg semua ungkapan Mba.
Meskipun Saya akui,Saya mungkin belum berani jika berhadapan dg situasi seperti itu untuk melakukan seperti yg Mba Riri kerjakan. Karena ya itu,zaman sekarang cenderung orang kan menganggap itu hak & urusan masing-masing.Walaupun pasti anggapan itu sangat tidak selamanya benar.Tapi,mungkin kedepan Saya kan coba seperti dg yang Mba lakukan karna itu memang lebih baik.
Disisi lain,Saya kagum dengan ungkapan Mba yang terus mencoba konsisten untuk terus "menjaga" muslimah & ISLAM agar tetap bersinar ditengah kondisinya yang seakan terus di"sudut"kan.
Jazakillah Mba.
Wassalaam Wr.Wb.
(Saya menulis ini sambil mendengar siaran Mba Riri dg Ayah Edi).