CINTA, kata ini selalu menarik untuk dibahas, di perbincangkan dan didiskusikan. Kata ini seakan menghipnotis pemujanya dengan berbagai hal yang sangat dramatis. Mulai dari bahagia, tangisan, senyuman indah, kerutan kening, semuanya bisa timbul dalam diri kita hanya gara-gara kata yang satu ini. Cinta memang betul-betul membuat buta, namun karena cinta pula bahagia dan senyum indah itu ada.Banyak yang sudah saya alami beriringan dengan kata yang cantik ini, ya, apalagi kalau bukan cinta. Kata yang sejak pertama saya kenal membuat hati dan pikiran saya berwarna. Mulai dari cinta akan keluarga, kemudian cinta pada sekeliling saya, kepada "someone special" bagi saya sampai tingkat tertinggi dari cinta, yakni cinta pada Tuhan dan Nabi Muhammad SAW. Tapi, kali ini saya akan menggoreskan kata-kata dalam pikiran mengenai cinta yang seringkali membutakan, cinta pada kekasih. Saya tergelitik menuangkan tentang hal ini, karena banyak sudah saya dengar kisah yang betul-betul merusak akal manusia, sebab cinta membutakan ini. Ironi nya cerita ini banyak saya dengar dari mereka orang-orang terdekat, ya kawan-kawan saya bahkan sahabat terdekat.
Cerita pertama dari seorang kawan saya Irfan (nama samaran). Berawal dari perbincangan kami di facebook chat mengenai keinginannya untuk membanggakan kedua orang tuanya, akhirnya kami tibalah dalam sebuah percakapan yang cukup dramatis. Pemicu dari perbincangan yang dramatis ini, apalagi kalau bukan cinta. Ya, Irfan menceritakan betapa dirinya sangat menyesal bahkan sampai dengan detik ini, karena telah meninggalkan kedua orang tuanya untuk merantau ke Jakarta, demi seorang wanita yang sangat dicintainya, bahkan ia sempat mengatakan "cinta mati" kepada wanita itu. Segalanya ia korbankan demi cintanya. Orang tua, pendidikan dan masih banyak yang lainnya yang ia tinggalkan untuk wanita yang dicintainya. Ia berpikir dengan segala pengorbanannya, "cinta mati" nya akan bersambut pula dari wanita pujaannya. Namun ternyata sayang seribu sayang, "cinta mati" hanya bertepuk sebelah tangan. Tragisnya Irfan sampai tidak mengetahui, Ibu nya telah meninggal dunia, di kampung karena mempertahankan "cinta mati" nya. Sesal tinggallah sesal.. semula cinta yang diyakini nya akan membawanya pada kebahagian sejati, namun justru kebahagiaan semu lah yang di dapatkan.
Cerita berikutnya, masih dari seorang kawan dekat Dian (nama samaran) namanya. Kawan saya ini begitu cinta nya pada seorang laki-laki bernama Ardi. Hingga begitu sempurna nya Ardi di mata Dian, segala masukan dan saran kawan-kawan atas hubungan mereka setelah melihat tindak tanduk Ardi, tetap Dian hiraukan. Entah apa yang membuat Dian begitu mencintai Ardi. Yang selalu diceritakannya hanya tentang kesenangan Dian dan kenyamanannya ketika bersama Ardi. Tapi siapa sangka, kehadiran Ardi hanya menjadi "nightmare" bagi hidup Dian. Menjelang pernikahan, Ardi justru memutuskan hubungan dan ternyata punya hubungan dengan perempuan yang lain.
Dua cerita tersebut menceritakan bagaimana cinta yang membutakan telah membawa petaka bagi diri sendiri maupun orang disekitar kita, terutama orang-orang terdekat kita. Cinta bukan sekedar kata yang indah, tapi lebih dari itu jika saja kita mau mengerti cinta yang sebenarnya, kiranya cinta membawa sesuatu yang membahagiakan dan membawa kita lebih dekat dengan NYA. Seperti yang dikatakan Jalaluddin Rumi dalam syairnya "Cinta adalah tiupan seruling penggugah jiwa" begitupun dengan yang dikatakan perempuan sufi lainnya, Rabiah Al-Adawiyah mengatakan "Cinta adalah tatapan mesra sang waktu". Memang tidak semua kisah cinta membawa pada kesengsaraan. Adakalanya cinta yang di pupuk karena mencari ridha NYA, justru membawa bahagia. Seperti cinta yang sudah banyak di ketahui, cinta seorang BJ. Habibie pada sang istri, cinta seorang Widyawati pada sang suami dan masih banyak yang lainnya. Semua menunjukkan betapa agungnya sebuah cinta antar manusia.
Ketika saya menggoreskan tulisan tentang cinta ini, bukan berarti saya tidak menyetujui adanya cinta, namun yang ingin saya sampaikan adalah janganlah kita terjerembab pada cinta yang membutakan. Karena cinta kita pada seseorang, membuat kita lupa akan segala hal yang terpenting dan prioritas dalam hidup kita. Kita lupa, bahwa sebelum kita menemukan cinta kita pada sang kekasih yang membuat kita jatuh hati padanya, ada orang tua kita yang punya cinta sejati yang tak terhingga pada kita. Terlebih cinta Tuhan yang paling hakiki. Jikalau sahabat, merasakan jatuh cinta, yakinkan cinta itu bersumber atas ridha NYA, cinta yang bisa melihat kekurangan sebagai sesuatu yang dilengkapi dan di sempurnakan.
Sahabat yang baik, selamat memilih cinta. Cinta yang baik bagi mu, cinta yang memperindah hidup mu dan cinta yang bersumber dan atas ridha Tuhan mu. Mari kita memandang cinta dengan pandangan yang jauh lebih besar, bukan cinta yang membuat hidup mu menjadi suram. Cintailah segalanya yang engkau miliki alakadarnya, hingga suatu saat kau tak terlalu gelisah ketika kehilangannya.
-Studio SmartFM, 22 Februari 2011, Jam 9 pagi-
0 komentar:
Poskan Komentar