“kapan undangannnya?”, “betah banget dey ng-jomblo?”, “pilih-pilih sey jadi orang”, “ihh udah umur segini..(teeeet.. ga boleh disebutin, qiqiiqiqi) belum juga merit?” dan masih banyak lagi kata-kata yang meluncur dari mulut orang-orang disekitar saya ketika mengetahui sampai dengan detik ini saya masih sendiri alias belum menikah. Mendengarnya risih sekali, bahkan membuat saya bete setiap kali ada orang yang mengatakan hal-hal tadi dan yang paling “menohok” ketika menjadi MC Wedding. Waaaahh aku mesti bersiap dengan pertanyaan, “mc nya sudah merit belum?”, “yaaah.. ng.mc in mulu kapan meritnya?. Ketika di serang pertanyaan-pertanyaan tadi saya hanya ngoceh dalam hati “Kenapa sey, hidup-hidup gw.. ko jadi loe yang sibuk ngurusin..” sambil melempar senyum-senyum yang sedikit terpaksa kepada mereka yang melontarkan kata-kata itu kearah saya, atau jurus terakhir seperti iklan salah satu produk yang sering ditanya “kapan meritnya?” di jawab “hmm May, Maybe yes Maybe not” tapi saya ganti “Maybe yes, Maybe tomorrow”, heheh betul-betul berharap banget!. Terkadang memang sih akhirnya jadi sibuk mereview diri sendiri, “apa iya saya ini pilih-pilih pasangan?”, “apa iya saya ini betah nge-jomblo”.. hmm.. sepertinya ga juga ko.. sambil mengerutkan kening.
Terkadang saya kepingin seperti mereka, bisa jalan bareng dengan sang pacar dan lainya, tapi setelah pikir-pikir dan setelah saya memutuskan untuk menggunakan hijab ini, saya memilih untuk tidak “berpacaran”. Ta’aruf menurut jauh lebih baik dan sesuai dengan aturan keyakinan saya. Kalau sekedar pacaran dan kemudian putus dan ga tahu arah, akhh.. udah ga jaman lah menurut saya. Lelaki dan perempuan di fitrahkan untuk mengenal satu sama lain dan saling mengisi dan berbagi dalam mahligai pernikahan, bukan tak ada ujung dan arah. Ditambah, seperti yang di sampaikan Prasetya M. Brata, Penulis buku Provokasi, bahwa yang dinamakan siap menikah itu adalah, siap menerima segala kondisi dan keadaan terburuk bersama setelah menikah. Setelah saya mencerna perkataannya, saya pun menyetujuinya. Ayah saya sering bertanya..”anak ayah ko belum juga ada pacarnya ya? Kapan ya, menikahnya?” dengan muka meledek..”Yah.. menikah bukan sekedar mengucap janji didepan orang tua dan saksi saja, tapi juga dihadapan ALLAH. saya ga mau menikah hanya karena tuntutan ayah dan mama, tapi saya mau menikah jika sudah ada lelaki yang serius menjadi imam saya, saling menerima ketidaksempurnaan dan melengkapi dalam segala kekurangan dan saling mendukung dalam kesuksesan...” jawab saya dengan serius dan panjang.. Ayah hanya menyambut jawaban saya dengan senyuman seraya mengusap kepala. Saya yakin ia sambil berdoa dikala mengusap kepala saya, “Ya ALLAH, cepat beri anak ku jodoh ya” gitu kali doa ayah kurang lebih, hahahaha...
Belajar dari kawan-kawan saya yang sudah menikah, saya semakin diberi kesempatan oleh ALLAH untuk belajar “mempersiapkan” diri untuk menikah. Tidak jarang kawan-kawan yang datang pada saya hanya mengeluhkan rumah tangganya, mengeluhkan istri / suaminya yang tidak sadar bahwa istri / suami yang mereka temani dan cintai merupakan pilihan mereka sendiri, dan ironi nya, sekarang mereka keluhkan?. Disinilah saya belajar dalam menghadapi sebuah pernikahan kelak. Pelajaran-pelajaran tadi jualah yang membuat saya bersabar menanti sang imam dalam kehidupan saya. Bisa jadi ketika saya mengatakan “siap” namun tidak menurut takaran ALLAH. DIA yang maha tahu kapan waktu yang tepat untuk memberikan pasangan yang memang bukan sekedar suami yang bertanggung jawab lahir bathin, tapi juga imam yang bisa menuntunku dan anak-anak ku untuk lebih dekat dan mencintai-NYA. Bahkan dalam sebuah kesempatan acara pernikahan sepupu, saya sempat mendengar sang penceramah menyampaikan bahwa “suami merupakan pakaian bagi sang istri, dan begitu sebaliknya, istri merupakan pakaian bagi sang suami”, saling menutupi kekurangan masing-masing itulah bijaknya dari sebuah rumah tangga. Saya rasa kerinduan untuk memiliki rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah, bukan hanya keinginan saya saja tapi juga mereka-mereka yang belum menikah dan ingin menikah. Namun begitu, alangkah bijaknya, segala sesuatu tidak hanya berlandaskan keinginan semata, namun juga mesti disertai dengan persiapan dan usaha. mungkin saja secara mental dan bathin kita merasa siap, namun mengapa ALLAH belum juga mempertemukan dengan sang pangeran atau sang putri? Bisa jadi mungkin saja ikhtiar kita yang masih kurang, ataupun sebaliknya. Jikalau menurut takaran kita, kita sudah mempersiapkan semua, tidak hanya ikhtiar dan keinginan, namun ALLAH belum juga memberi pasangan kepada kita, tetaplah berbaik sangka padaNYA. Karena hanya DIA lah yang tahu kapan waktu yang tepat untuk membuat kita senyum bahagia dalam sebuah pernikahan.
Sahabat yang baik...., mungkin ketika anda membaca tulisan singkat ini, bisa jadi anda mengatakan dalam hati “duh gw banget ney” atau “hmm.. iya juga sey” tanda anda menyetujui apa yang juga saya rasakan. Ingatlah, bahwa masih banyak hal yang bisa di syukuri dari diri kita. Ketika penantian anda akan suami/sang imam ataupun istri/sang ma’mum belum juga ALLAH kabulkan dan berikan, bukan berarti DIA tak ingin melihat anda bahagia, ini hanya bagian dari cara-NYA untuk melihat seberapa besar kesabaran mu. Menikah bukan sekedar memutuskan untuk mencintai pasangan kita sepanjang hayat, tapi juga menjaga komitmen kita terhadap pasangan untuk menerima segala lebih dan kurangnya, bersamanya dalam suka dan duka dan mendukungnya dalam kondisi apapun. Pilihlah mereka yang tidak hanya sekufu bagi anda, namun juga mereka yang mencintai tuhannya. Satu hal yang juga saya ingat, pesan dari sebuah buku tentang pernikahan, bahwa ketika ALLAH belum memberikan pasangan dalam hidup kita adalah waktu kita di berikan kesempatan oleh NYA untuk terus memperbaiki diri menjadi pribadi yang siap dan matang untuk menjalani kehidupan berumah tangga kelak. Subhanallah!
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (syurga)....." (QS: An Nuur , 26)
0 komentar:
Poskan Komentar