Selasa, 13 Oktober 2009

Indahnya Makna Lagu Ini (A New Day Has Come - Celine Dion)

A new day, oh..oh..
A new day, oh..oh..
I was waiting for so long
For a miracle to come
Everyone told me to be strong
Hold on and don’t shed a tear

Through the darkness and good times
I knew I’d make it through
And the world thought I had it all
But I was waiting for you

Hush, now

I see a light in the sky
Oh, it’s almost blinding me
I can’t believe
I’ve been touched by an angel with love

Let the rain come down and wash away my tears
Let it fill my soul and drown my fears
Let it shatter the walls for a new sun

A new day has... come
Oh...

Where it was dark now there’s light
Where there was pain now there’s joy
Where there was weakness, I found my strength
All in the eyes of a boy
Hush, now

I see a light in the sky
Oh, it’s almost blinding me
I can’t believe
I’ve been touched by an angel with love

Let the rain come down and wash away my tears
Let it fill my soul and drown my fears
Let it shatter the walls for a new sun

A new day has...

Let the rain come down and wash away my tears
Let it fill my soul and drown my fears
Let it shatter the walls for a new sun

A new day has... come
Ohhh
Hush, now

I see a light in your eyes
All in the eyes of the boy

I can’t believe
I’ve been touched by an angel with love

I can’t believe
I’ve been touched by an angel with love

Hush, now
(ahh..ahh...
A new day...
Ahh..ahh..)
Hush, now
(ahh..ahh..
A new day...)

Minggu, 11 Oktober 2009

Darinya aku belajar….

(1) Awalnya aku merasa aku adalah orang yang egois, namun darinya aku belajar bahwa bukan hanya aku yang ingin dimengerti, namun ada orang lain yang ingin juga dimengerti dan dipahami.
(2) Awalnya aku seringkali lupa bahwa kehidupan ini tidak hanya dunia, namun darinya aku belajar dan selalu dingatkan bahwa ada kehidupan lain disana yang lebih kekal.
(3) Awalnya aku seringkali merasa bahwa aku mampu menyelesaikan segalanya sendiri dan berdiri di “kaki sendiri”, namun darinya aku belajar bahwa wanita tetap harus memahami kodratnya agar jauh dari sebuah kesombongan.
(4) Awalnya aku selalu mudah kesal dan marah karena apapun yang tidak sesuai dengan yang aku harapkan, namun darinya aku belajar bersabar.
(5) Awalnya aku sangat reaktif menyikapi segala hal, namun darinya aku belajar untuk tenang.
(6) Awalnya aku senang menghabiskan waktu bersama kawan-kawan ku tanpa agenda yang jelas, namun darinya aku belajar untuk menghabiskan waktu bagi sesuatu yang bermanfaat.
(8) Awalnya aku malas untuk mendengarkan cerita orang lain, namun darinya aku belajar untuk menjadi pendengar yang baik.
(9) Awalnya aku lebih sering menggunakan alasan lupa hingga seringkali diingatkan, namun darinya aku belajar sebuah arti kata “kesadaran”.

Banyak hal yang darinya aku belajar. Dia tidak menyampaikan kepada ku seperti halnya guru, namun dia mengajarkan ku dari cara-cara yang ditunjukkan dan disampaikan kepada ku secara tidak sengaja. Dari sekian orang yang pernah hadir dalam hati ku, ternyata kamulah yang banyak meninggalkan hal-hal positif dalam diriku. Thank you so much, Aa..!!!

Eko dan Dian

Tidak ada manusia yang sempurna, bahkan pasangan kita. Tetapi bagaimana caranya, kita berusaha untuk mencintai orang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna” , demikian kata-kata yang saya rangkum dari kisah seorang Eko Pratomo dan kembali saya sampaikan kepada teman terdekat saya yang sedang mengalami persoalan dalam hubunganya. Seketika pun saya langsung terdiam setelah menyampaikan kata-kata tersebut kepada teman saya.

Tidak hanya terdiam, saya juga kembali mereview sebuah kisah cinta dua anak manusia, Eko dan Dian. Pastinya, anda bertanya, siapakah Eko dan siapa Dian??. Pa Eko, begitu biasa saya menyapa beliau, dan beliau adalah Presiden Direktur salah satu perusahaan investment terbesar di Indonesia. Sedangkan Dian? Ya, Dia adalah mantan seorang PR di salah satu perusahaan perbankan dan merupakan salah satu karyawan berprestasi.

Dalam sebuah kesempatan, radio tempat saya bekerja mengundang Pa Eko, untuk menjadi narasumber disalah satu program kami “smart emotion” yang dipandu oleh Anthony Dio Martin (Master NLP & Hypnoteraphy) dan juga Ibi, penyiar smart FM. Tapi pada kesempatan tersebut kami mengundang pa Eko bukanlah untuk sharing mengenai pengalamannya di bidang investasi, tapi adalah untuk sharing mengenai kesetiaannya menemani Bu Dian, sang istri yang menderita penyakit lupus, salah satu penyakit yang belum ada obatnya.

Beliau juga sudah berkesempatan menulis suatu buku berjudul “Miracle of Love” yang mengisahkan perjalanan kisah cinta dan rumah tangga dirinya dengan Ibu Dian. Meskipun begitu saya tetap tertarik untuk menulis sedikit tentang mereka.

Seperti halnya para lelaki kebanyakan di muka bumi ini, Pa Eko pun melihat dan memantapkan diri untuk memilih hidup bersama Ibu Dian, pertama kali karena terpesona dengan kecantikan dan kepintaran Ibu Dian. Namun, apakah yang membedakan Pa Eko dengan para lelaki kebanyakan??? Sebuah kesetiaan yang tak’an pernah padam kecuali Allah yang maha segalanya yang meredupkan kesetiaan dan kasih sayangnya terhadap Ibu Dian.

Perjalanan dalam mengarungi kehidupan rumah tangga yang indah, tidak seindah mimpi dan harapan, cobaan dan terpaan yang begitu luar biasa selalu menghampiri mereka. Dengan diagnosa dokter, bahwa Ibu Dian terkena penyakit Lupus, membuat kehidupan cinta mereka terlampau banyak menemui kerikil. Keluar masuk rumah sakit dengan menghabiskan biaya yang sangat banyak, kelemahan fisik yang semakin hari menggerogoti tubuh Ibu Dian hingga mengalami “Low Vision” atau lemah penglihatan, kesemuanya tidak membuat Pa Eko luput sedikitpun untuk tetap mencintai sepenuh hati sang istri yang ternyata tidak bisa memenuhi kewajibannya untuk melayani dirinya, sebagaimana tanggung jawab istri kebanyakan.

Dalam kesempatan wawancara dengan rekan saya, Ibi, di studio dengannya, dirinya menyatakan, bahwa ada satu hal yang selalu diingatnya untuk tetap setia pada sang istri, Ibu Dian. “Ko.. tolong jaga Dian” begitu kata sang mertua ketika Pa Eko memutuskan untuk menikahi Ibu Dian. Betapa kata-kata itu mempunyai nilai dan arti yang sangat luar biasa bagi diri Pa Eko, untuk tetap istiqomah menjaga cintanya hanya untuk Dian, lengkap satu paket dengan segala kekurangan Dian. Pada saat Ibi (host smart fm) melanjutkan pertanyaan yang lebih mendalam, “Pa Eko, tidak pernahkah terbelesit dalam pikiran anda, untuk mencari pasangan lain, bahkan ketika Ibu Dian mengizinkan anda untuk mencari pasangan lagi?” Dengan yakin Pa Eko menjawab “bagi saya Dian sudah cukup menjadi istri yang baik dan dia bisa menjadi ladang amal bagi saya. Mengurusnya dengan setia dan penuh ketulusan, InsyaAllah membuahkan syurga untuk saya…” . Tidak terasa pagi hari itu, studio kami penuh keharuan, masing-masing (staff) dari kami yang mendengarkan di studio, berharap semoga kami bisa menjadi pasangan terbaik bagi istri-istri atau suami-suami kami.

Apa yang harus kita refleksikan dari kisah Pa Eko dan Ibu Dian?? Tidak banyak dari kita yang hanya mengartikan sebuah hubungan terutama dalam perkawinan, hanya sebatas pengesahan dari sebuah hubungan seksual. Satu hal yang pasti bisa dipetik pelajaran dari kisah ini, adalah bahwa hubungan antara 2 insan manusia, terutama dalam ikatan sebuah perkawinan, janji yang kita ucapkan tidak hanya bentuk keterikatan atau komitmen kita pada calon istri atau suami, bahkan keluarga besar masing-masing pihak, namun lebih daripada itu, ada Allah, Rab, yang menyaksikan komitmen yang kita ucapkan pada saat pernikahan. Ketika pemikiran spiritualitas sudah masuk dalam diri kita, InsyaAllah semua yang dijalani dalam sebuah hubungan baik dalam takaran ta’aruf maupun perkawinan tidak lagi hanya persoalan nafsu, tapi sudah betul-betul penerimaan lahir batin atas segala kekurangan dan kelebihan pasangan masing-masing.

Sekilas cerita yang mungkin jauh dari sempurna ini, semoga bisa meninspirasikan kita untuk betul-betul memaknai kata “menerima apa adanya” pasangan kita, bukan sekedar tahu dan mengerti, namun lebih dari itu kita bisa memaknainya.

Hai..sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya, dan dari padanya keduanya, Allah memperkembang biakan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.. “ (Q.S An nissa: 1)

Rabu, 08 Oktober 2008

Berbeda untuk sejiwa

By: Riri Artakusuma
Dedicated to my lovely cousin “Nunung & Irfan”
(have a great wedding, sis!)

Taukah kau, hari-hari ada, karena kita dan cinta
Ketika kita putuskan
Tuk bisa saling mengerti
Ketika kita membiarkan hati ini bicara

Tentang harapan dan impian
Tentang masa depan
Dimana kemudian kita menjadi takjub
Karena kita begitu berbeda dan akan sejiwa

Maka kita pun barjanji
Tuk satukan hati
Dalam ikatan yang erat
Yaitu ikatan sebuah pernikahan

Agar yang berbeda, menjadi serasi
Agar yang kosong, terisi dengan sempurna
Agar segala harapan dan impian
Dapat diwujudkan bersama

Karena perbedaan kita
Bukanlah kendala atas cinta
Selama kita msih menggunakan bahasa yang sama
Yakni BAHASA CINTA

Delapan Kebohongan Seorang Ibu Dalam Hidupnya

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan Membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah Ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia. Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang Anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata: “Makanlah nak, aku tidak lapar” ———- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika aku mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk pertumbuhanku. Sepulang memancing, ibu memasak gulai ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan gulai ikan itu, ibu duduk disampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang bekas sisa ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati ku tersentuh, lalu Menggunakan sumpitku dan memberikan ikan kepada ibuku. Tetapi ibu dengan Cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil. Dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata :”Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata : “Cepatlah tidur nak, aku tidak capek” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku Pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, Ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang ibu yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata : “Minumlah nak, aku tidak haus!” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga Kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, Ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta”———-KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku Dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : “Saya punya uang” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM

Setelah Lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku : “Aku tidak terbiasa” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker Lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di Seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya Setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menggerogoti tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “Jangan menangis anakku, aku tidak kesakitan” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya. Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : ” Terima kasih ibu !” Mari sama-sama kita berfikir, sudah berapa lama kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lama kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita ? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila disamping kita. Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari orang tua kita? Cemas apakah orang tua kita sudah makan atau belum? Cemas apakah orang tua kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar ? Kalau ya, mari sama-sama kita renungkan kembali lagi.. Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi orang tua kita, mari kita lakukan yang terbaik hingga jangan sampai ada kata “MENYESAL”di kemudian hari.
(Taken from kajian hati psikologi uin Jakarta)

"Tapakan Lelah Kaki Sang Ayah"

by: Riri Artakusuma
dedicated to my lovely dad

Ketika titik sirna mulai tenggelam
Ketika kulit yang semakin keriput terlihat kusam
Dia terus berjalan, dengan sebuah doa
Bahwa akan ada cahaya yang akan dibawa

Panas tak perduli, dia terus menapaki
Hujan yang membasahi, dia terus menjalani
Demi harapan sebuah rezeki
Tak ada kata susah
Dia terus, terus, dan terus berusaha tanpa lelah

Senyuman keikhlasan
Sebagai tanda sebuah pengharapan
Selalu terpancar dari wajah lelahnya
Aura kebahagian tanpa keluhan

Tuhan, dengarkanlah doanya
Seorang hamba yang lunglai, lelah tapi tak meyerah dan tetap melangkah
Berjuang terus demi keluarga
Dialah seseorang yang kami sebut AYAH

Laskar Pelangi yang Mempesona

Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya”. Kata-kata itulah yang masuk dalam bagian kata yang saya garis bawahi dan saya tancapkan dalam otak terdalam. Begitu tersentak saya mendengar kata-kata yang saya kutip dari kisah Laskar Pelangi karya penulis berbakat Andrea Hirata. Saya yakin bukan hanya saya yang merasa tersentuh dengan kata tadi, tapi juga ketiga teman saya ,Yoga, Steve dan Ojie yang turut menyaksikan film tersebut.

Saya teringat, ada seorang kawan yang pernah berkata kepada saya dalam sebuah kesempatan. “Selalu ada makna dalam banyak kesempatan” dan kali ini saya dan teman-teman mendapat kesempatan untuk menonton kisah Laskar Pelangi yang diangkat dari sebuah novel hingga menjadi karya film dan dimotori oleh sang sutradara muda berbakat Riri Reza. Ditengah kebosanan para pecinta film akan karya anak bangsa yang seringkali menyuguhkan kisah horror dan drama percintaan, kisah Laskar Pelangi menjadi sebuah suguhan tontonan yang sangat luar biasa, yang tidak hanya sebuah tontonan tapi menurut saya juga merupakan sebuah penyadaran dari ketidakpedulian banyak pihak akan pendidikan, terlepas dari sebuah penilaian atas segala kekurangan dalam film tersebut

Banyak scene yang membuat otak saya berfikir dan hati saya bergetar. Salah satunya seperti kata sang guru, Pak Harfan, salah satu tokoh dalam kisah tersebut yang menekankan sampai berulang kali “Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya bukan menerima sebanyak-banyaknya”. Sambil film itu terus berlanjut dari satu cerita ke cerita lain, saya terdiam. Muncul banyak pertanyaan dalam hati saya, “Ya Tuhan… apakah saya telah melakukan tersebut??, apakah hidup saya sudah benar-benar bisa menjadi manfaat bagi keluarga dan orang lain”, Gumam saya dalam hati. Semua kata-kata mereview segala hal yang telah saya lakukan.

Mungkin saya ataupun anda yang tentunya sudah membaca atau menyaksikan kisah “Laskar pelangi”, mempunyai petanyaan yang sama setalah mendengar kata-kata itu. Ataupun jika tidak, saya berharap kita tidak sedang mengalami krisis ketidakpedulian atau terkena syndrom egosentrisme. Penyadaran terhadap banyaknya ketidakpedulian terhadap pendidikan, membuat saya semakin merasa tertohok. Padahal begitu banyak anak bangsa yang sebetulnya merupakan insan berpotensi, tapi apa daya, mereka tidak bisa mengasah kemampuannya dan mengenyam bangku sekolah, hanya karena ketidakmampuan dan segala beban yang harus mereka tanggung.

Kisah beberapa orang bocah dalam “Laskar Pelangi”, merupakan cerminan penderitaan dan beban anak bangsa akan hausnya mereka pada ilmu. “Laskar Pelangi” pun bukan semata-mata cerita fiktif dan meng ada- ada, tapi sebuah realita kehidupan yang terangkat atau tertuang dalam sebuah tulisan bermakna yang kemudian divisualisasikan. Tidak hanya makna atas dahaga ilmu, tetapi kisah tersebut juga mencoba menunjukan “kegigihan, harapan, impian bahkan cita-cita yang tinggi” meskipun dengan banyaknya keterbatasan. Dari sini pula saya mendapatkan pelajaran atas sebuah pembuktian bahwa “Siapapun yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil”. Semoga kisah ini bisa menginspirasi kita semua untuk bisa menjadi insan yang tidak menyerah dengan keadaan dan tetap memiliki cita-cita tinggi, apapun halangan dan rintangannya.