Prolog:
“Memilih mu bukan tanpa alasan. Hati ini
berkata memang engkau yang harus ku pilih. Bukan karena rupa mu, terlebih
materi, tidak sama sekali. Namun karena ku tahu kau lah yang bersungguh-sungguh
atas aku hingga Allah pisahkan dengan ajal…”
Bingung, rasa hati tak karuanan ketika aku harus
menjawab pertanyaan Akbar. Degup jantung ini semakin kencang. Mulut rasa tak
sanggup untuk mengeluarkan kata meski sepatah, namun genggaman ummi lah yang
membuat ku sanggup menghilangkan gugup untuk berkata “Ya, Fatma terima” saat Akbar datang
mengkhitbah. Sesekali ku mencuri pandangan kearah nya ku lihat Akbar begitu
lega seraya mengucapkan “Alhamdulillah”
sesaat ketika ku jawab khitbahnya.
20 Januari 2009, tanggal bulan dan tahun yang tak
pernah ku lupa. Bahwa pada saat itu aku menerima pinangan seorang yang tidak
hanya gagah, tapi juga sungguh-sungguh sholeh. Meski ku lemah terbaring di atas
kasur berlapis sprei putih, dengan hiasan tabung oksigen di sebelah kiri dan
selang-selang infus di sebelah kanan, tapi tak menyurutkan kesungguhannya untuk
menikahi ku. Banyak komentar yang datang “Sungguh beruntung kamu, Fat..!”. Ya, alhamdulillah aku sungguh
beruntung. Akbar lelaki yang baru ku kenal 8 bulan yang lalu, datang dengan
sungguh menemui orang tua ku tanpa keraguan.
Masih begitu nyata dalam ingatan ku, bagaimana aku
bertemu dengan sosok Akbar. Tanpa sengaja, tiap kali ku menunggu bis ke kantor
selalu saja aku berpapasan dengan Akbar. Bukan sekali dua kali, tapi hampir
berkali-kali. Tapi saat itu tak ada satu tanda pun bahwa Akbar menaruh hati
pada ku. Kenyataan bahwa rutinitas yang hampir tiap hari berpapasan bahkan satu
bus dengannya, tidak lantas membuat ku tahu bahwa ternyata Akbar sudah lama
memperhatikan ku. Hingga suatu ketika, ku melihat Akbar berdiri tepat di halte
bus dan segera menghampiri ku, seraya mengucap “Assalamualaikum”. Kaget. Tapi aku juga tersipu. “Alaikumsalam”
jawab ku. “maaf, saya Akbar. Jika
berkenan saya ingin berkenalan dengan ukhti.” Sapa Akbar dengan santun. “Silahkan, tapi Maaf mas eee saya buru-buru”
jawab ku sambil tergagap-gagap karena gugup. “oo.. maaf jika menggangu. Apakah ukhti kearah senen juga?” Tanya
Akbar sambil melihat-lihat kearah jalan, apakah bus 76 yang biasa di
tumpanginya telah mendekat atau belum. “Iya”
jawab ku singkat. “Alhamdulillah, saya
juga naik bus yang sama” tandas Akbar sambil melempar senyum kearah ku.
Begitulah awal pertemuan ku dengan Akbar terjadi.
Leukimia & Cinta ku..
Benih-benih rasa itu mulai tumbuh. Tak pernah
ada peristiwa lagi setelah pertemuan itu. Namun hanya jiwa yang merasa dan hati
yang seakan berbicara, bahwa sekeping hati yang terus memangggil sepenggal
kalimat, “Ana Uhibbuka!”
Semua terasa begitu singkat dan sementara rasa cinta
itu terus tumbuh. Aku tidak merasakannya sendirian, Akbar pun demikian. Setelah
beberapa kali pertemuan yang tidak sekedar memberi senyum dari kejauhan,
akhirnya Akbar menyampaikan kepada ku “Saya
menaruh hati padamu, Fat!!”. Aku diam terpaku sambil tersenyum. Ku rasa Akbar
juga tahu, aku mempunyai rasa yang sama. “Ana
Uhubbuka!!” begitu teriak ku dalam
hati.
Tapi rasa itu tak bisa ku balas segera. Sepenggal
kalimat itu hanya bisa ku tegaskan dalam hati. Bukan, bukan karena ku tak
mencintai Akbar, tapi karena keraguan dan ketakutan ku yang memenuhi isi
pikiran ku, apakah Akbar bisa menerima tulus diri ini yang sering terkapar
sakit. Sudah sejak setahun lalu leukemia mengendap dalam tubuh ini.
“Kamu tidak
perlu menanggapi segera pernyataan ku, Fat..” tandas Akbar dengan tenang. “Terima kasih, Bar.. aku betul-betul minta
maaf tidak bisa menjawab pernyataan mu sekarang, sekali lagi maaf” tanggap
ku dengan rasa bahagia bercampur kekhawatiran. Hanya itu yang ada dalam
tempurung otak ku.
“Jika kamu
bersedia, aku akan sampaikan niat ku ke pada abah dan ummi, bahwa aku bersungguh-sungguh
pada mu”. Pandangan Akbar semakin tajam kearah ku. Dia berusaha meyakinkan
aku.
Keheningan dan keseriusan pecah seketika,
“Allahu
akbar!! Fat, Fatma… kamu kenapa berdarah begini Fat? Astagfirullah, Fat..!” teriak Akbar
hingga terdengar hilang suara itu di telinga ku.
Yang ku tahu hanya dunia seperti gelap. Badan ini
terasa lemah, hingga tak mampu memapah diri sendiri. “Ya Allah, mungkinkah ini akhir hidup ku?” Bertanya ku dalam hati.
“Bah.. abah..
Fatma bah?” dengan teropoh-gopoh Akbar menghampiri Abah
“Astagfirullah,
Fat… kambuh lagi..” wajah panik abah terlihat jelas
“Siapkan
mobil, Bar.. abah mau langsung bawa Fatma ke rumah sakit” tegas abah sambil
terburu-buru
Dengan penuh tegang dan kekhawatiran, Akbar bersama abah terus melangkahkan diri membawa
tubuh Fatma yang sudah terkulai lemah ke rumah sakit. Wajahnya tidak hanya
pucat, namun penuh darah yang keluar dari hidung mancungnya.
Di balik lorong rumah sakit,
“MashaAllah
ada apa dengan Fatma??. Ya Allah, apakah ini design awal mu dalam ta’aruf ku?”
gumam Akbar dengan wajah yang masih penuh resah karena kondisi Fatma.
“Bar.. Maaf abah jadi merepotkan” Ucap abah dengan nada lirih
“Bah,
sebetulnya ada apa dengan Fatma?” tanya Akbar dengan penuh penasaran
“Leukimia..
Ya, Fatma menderita leukemia, Bar” jawab abah
“Astagfirullahaladzim..”
hanya kata itu yang terucap dari bibir Akbar.
“Mumpung
kalian masih dalam masa ta’aruf, silahkan dipikirkan, apakah akan dilanjutkan
ta’aruf ini atau tidak. Jangan sampai kamu menyesal di akhir, Bar..”
Tiba-tiba abah menyentil soal ta’aruf Akbar dengan Fatma.
“Maaf Bah,
saya mencintai Fatma, anak abah dengan segala lebih dan kurangnya. Saya tetap
melanjutkan ta’aruf ini. Saya tidak ragu, bah..” tegas Akbar dengan penuh
keyakinan
“Syukurlah”
terdengar suara ikhlas dari bibir abah dan tak terasa bulir airmata keluar menetes perlahan di wajah abah
“Jika abah dan
ummi ijinkan, saya ingin proses ini langsung menuju khitbah”
“Subahanallah.
Baiklah jika kamu yakin Bar. Abah dan ummi memgijinkan. Tapi tunggulah Fatma
sampai pulih untuk diberitahu soal ini” tasyakur abah sambil memeluk calon menatu sholehnya
Dalam Bayangan Khitbah ...
*to be continued*
