Rabu, 18 Januari 2012

Dalam Tirai Ta’aruf (Part I)


Prolog:

Memilih mu bukan tanpa alasan. Hati ini berkata memang engkau yang harus ku pilih. Bukan karena rupa mu, terlebih materi, tidak sama sekali. Namun karena ku tahu kau lah yang bersungguh-sungguh atas aku hingga Allah pisahkan dengan ajal…”

Bingung, rasa hati tak karuanan ketika aku harus menjawab pertanyaan Akbar. Degup jantung ini semakin kencang. Mulut rasa tak sanggup untuk mengeluarkan kata meski sepatah, namun genggaman ummi lah yang membuat ku sanggup menghilangkan gugup untuk berkata “Ya, Fatma terima” saat Akbar datang mengkhitbah. Sesekali ku mencuri pandangan kearah nya ku lihat Akbar begitu lega seraya mengucapkan “Alhamdulillah” sesaat ketika ku jawab khitbahnya.

20 Januari 2009, tanggal bulan dan tahun yang tak pernah ku lupa. Bahwa pada saat itu aku menerima pinangan seorang yang tidak hanya gagah, tapi juga sungguh-sungguh sholeh. Meski ku lemah terbaring di atas kasur berlapis sprei putih, dengan hiasan tabung oksigen di sebelah kiri dan selang-selang infus di sebelah kanan, tapi tak menyurutkan kesungguhannya untuk menikahi ku. Banyak komentar yang datang “Sungguh beruntung kamu, Fat..!”. Ya, alhamdulillah aku sungguh beruntung. Akbar lelaki yang baru ku kenal 8 bulan yang lalu, datang dengan sungguh menemui orang tua ku tanpa keraguan.

Masih begitu nyata dalam ingatan ku, bagaimana aku bertemu dengan sosok Akbar. Tanpa sengaja, tiap kali ku menunggu bis ke kantor selalu saja aku berpapasan dengan Akbar. Bukan sekali dua kali, tapi hampir berkali-kali. Tapi saat itu tak ada satu tanda pun bahwa Akbar menaruh hati pada ku. Kenyataan bahwa rutinitas yang hampir tiap hari berpapasan bahkan satu bus dengannya, tidak lantas membuat ku tahu bahwa ternyata Akbar sudah lama memperhatikan ku. Hingga suatu ketika, ku melihat Akbar berdiri tepat di halte bus dan segera menghampiri ku, seraya mengucap “Assalamualaikum”. Kaget. Tapi aku juga tersipu.  “Alaikumsalam” jawab ku. “maaf, saya Akbar. Jika berkenan saya ingin berkenalan dengan ukhti.” Sapa Akbar dengan santun. “Silahkan, tapi Maaf mas eee saya buru-buru” jawab ku sambil tergagap-gagap karena gugup. “oo.. maaf jika menggangu. Apakah ukhti kearah senen juga?” Tanya Akbar sambil melihat-lihat kearah jalan, apakah bus 76 yang biasa di tumpanginya telah mendekat atau belum. “Iya” jawab ku singkat. “Alhamdulillah, saya juga naik bus yang sama” tandas Akbar sambil melempar senyum kearah ku. Begitulah awal pertemuan ku dengan Akbar terjadi.

Leukimia & Cinta ku..

Benih-benih rasa itu mulai tumbuh. Tak pernah ada peristiwa lagi setelah pertemuan itu. Namun hanya jiwa yang merasa dan hati yang seakan berbicara, bahwa sekeping hati yang terus memangggil sepenggal kalimat, “Ana Uhibbuka!”

Semua terasa begitu singkat dan sementara rasa cinta itu terus tumbuh. Aku tidak merasakannya sendirian, Akbar pun demikian. Setelah beberapa kali pertemuan yang tidak sekedar memberi senyum dari kejauhan, akhirnya Akbar menyampaikan kepada ku “Saya menaruh hati padamu, Fat!!”. Aku diam terpaku sambil tersenyum. Ku rasa Akbar juga tahu, aku mempunyai rasa yang sama. “Ana Uhubbuka!!” begitu teriak ku dalam  hati.

Tapi rasa itu tak bisa ku balas segera. Sepenggal kalimat itu hanya bisa ku tegaskan dalam hati. Bukan, bukan karena ku tak mencintai Akbar, tapi karena keraguan dan ketakutan ku yang memenuhi isi pikiran ku, apakah Akbar bisa menerima tulus diri ini yang sering terkapar sakit. Sudah sejak setahun lalu leukemia mengendap dalam tubuh ini.

Kamu tidak perlu menanggapi segera pernyataan ku, Fat..” tandas Akbar dengan tenang. “Terima kasih, Bar.. aku betul-betul minta maaf tidak bisa menjawab pernyataan mu sekarang, sekali lagi maaf” tanggap ku dengan rasa bahagia bercampur kekhawatiran. Hanya itu yang ada dalam tempurung otak ku.

Jika kamu bersedia, aku akan sampaikan niat ku ke pada abah dan ummi, bahwa aku bersungguh-sungguh pada mu”. Pandangan Akbar semakin tajam kearah ku. Dia berusaha meyakinkan aku.

Keheningan dan keseriusan pecah seketika,
“Allahu akbar!! Fat, Fatma… kamu kenapa berdarah begini Fat? Astagfirullah, Fat..!” teriak Akbar  hingga terdengar hilang suara itu di telinga ku.
Yang ku tahu hanya dunia seperti gelap. Badan ini terasa lemah, hingga tak mampu memapah diri sendiri. “Ya Allah, mungkinkah ini akhir hidup ku?” Bertanya ku dalam hati.
Bah.. abah.. Fatma bah?” dengan teropoh-gopoh Akbar menghampiri Abah
Astagfirullah, Fat… kambuh lagi..” wajah panik abah terlihat jelas
Siapkan mobil, Bar.. abah mau langsung bawa Fatma ke rumah sakit” tegas abah sambil terburu-buru

Dengan penuh tegang dan kekhawatiran, Akbar  bersama abah terus melangkahkan diri membawa tubuh Fatma yang sudah terkulai lemah ke rumah sakit. Wajahnya tidak hanya pucat, namun penuh darah yang keluar dari hidung mancungnya.

Di balik lorong rumah sakit,

MashaAllah ada apa dengan Fatma??. Ya Allah, apakah ini design awal mu dalam ta’aruf ku?” gumam Akbar dengan wajah yang masih penuh resah karena kondisi Fatma.

Bar.. Maaf abah jadi merepotkan” Ucap abah dengan nada lirih
Bah, sebetulnya ada apa dengan Fatma?” tanya Akbar dengan penuh penasaran
Leukimia.. Ya, Fatma menderita leukemia, Bar” jawab abah
Astagfirullahaladzim..” hanya kata itu yang terucap dari bibir Akbar.
Mumpung kalian masih dalam masa ta’aruf, silahkan dipikirkan, apakah akan dilanjutkan ta’aruf ini atau tidak. Jangan sampai kamu menyesal di akhir, Bar..” Tiba-tiba abah menyentil soal ta’aruf Akbar dengan Fatma.
Maaf Bah, saya mencintai Fatma, anak abah dengan segala lebih dan kurangnya. Saya tetap melanjutkan ta’aruf ini. Saya tidak ragu, bah..” tegas Akbar dengan penuh keyakinan
Syukurlah” terdengar suara ikhlas dari bibir abah dan tak terasa bulir airmata keluar menetes perlahan di wajah abah
Jika abah dan ummi ijinkan, saya ingin proses ini langsung menuju khitbah
Subahanallah. Baiklah jika kamu yakin Bar. Abah dan ummi memgijinkan. Tapi tunggulah Fatma sampai pulih untuk diberitahu soal ini” tasyakur abah sambil memeluk calon menatu sholehnya

Dalam Bayangan Khitbah ...


*to be continued*









Jumat, 30 Desember 2011

Merindu Cinta


Duhai penyapa setia seisi langit dan bumi
Kembali ku menemui dan mengadu pada Mu
Meski guratan malu menyelimuti
Namun yakin hati tetap ingin bertemu dengan Mu

Wahai yang Maha setia
Sudahkan Kau ketuk hati satu diantara kaum Adam
Diri ini bagai pohon yang kuat, namun serasa kering tanpa bunga
Menanti raja dihati sebagai sang imam

Jika penantian hati belum kunjung terjawab
Kuatkan jiwa tanpa harus terjerembab
Jika penantian hati membuat raga tak sabar
Kuatkan jiwa dengan ikhtiar

Duhai pemilik cinta yang agung
Jangan biarkan diri ini terkungkung
Hanya mengharap cinta semu hamba Mu
Namun lebih dari itu menanti sesungguhnya cinta, yaitu cinta Mu

Duhai Rabbi.. tsabit qolbi a'la mahabbatik!

Ciputat, 30 Desember 2011

Minggu, 25 Desember 2011

Syurga Mu Belum Pantas Untuk ku


Menatap cermin tampak sosok begitu sempurna KAU ciptakan
Dia adalah aku 
Dia yang begitu anggun dengan senyuman
Terbesit dalam hati doa kesyukuran
Menatap sebaik-baik penciptaan

Namun perlahan mengapa terasa banyak noda
Noda itu begitu melekat erat dalam dirinya dan bukan noda biasa
Mulai ku tatap mata itu dengan seksama, Allahu Akbar! banyaknya maksiat yang telah dilihatnya
Lalu ku lihat begitu sempurnanya 2 telinga, Astagfirullah! banyaknya kata dan ghibah yang telah di dengarnya
Ku palingkan penglihatan ini ke arah mulutnya, sekali lagi ku ucap Astagfirullah.. Begitu banyak kata tidak baik dan menyakitkan keluar dari mulutnya
dan ternyata begitupula ketika  kualihkan pandangan ini ke kedua tangganya, Ya Allah, nampak berat tangan ini tuk bersedekah..

Bulir air mata itu perlahan menetes 
Meratapi diri ini yang bergelimang dosa
Harapan ampunan mulai bagai dahaga seperti merindukan air walau setetes
Tuhan, Allah ku.. ampuni hamba

tatapan dan air mata itu belum terhenti
Menundukan diri melihat kedua kaki 
Tersadar banyak dosa yang dijalani
Bukan kebaikan yang menyertai

Rabbi.. sekujur tubuh ini penuh dosa
Akankan neraka mu yang paling pantas ada
untuk hamba yang dhoif dan mahluk yang tanpa Maha
Sungguh syurga Mu belum pantas untuk ku, duhai Tuhan yang ku cinta..

Ruang berdinding biru, Jakarta, 26 Des 2011







Kamis, 22 Desember 2011

Jadikan Akhir

Siapa yang tahu kedalaman hati terkecuali DIA
Siapa yang tahu tentang penantian lama ini terkecuali DIA
Siapa yang tahu untaian dari tiap tetesan air mata doa terkecuali DIA
Rabbi..  hanya engkau pemilik cinta yang sesunguhnya

Duhai pencipta cinta Adam dan Hawa
Pemilik kesempurnaan mahabbah Muhammad atas Khadijah
Pengikat istiqomah rindu Ali atas Fathimah
Bantu aku menemukan padanan jiwa

Jika telah Kau temukan,
Bantu aku mengeratkan tali-tali kesabaran
Bantu aku menjadi penyempurna kekurangan
Bantu aku menjaga qonaah dalam kehidupan

Seperti cinta abadi Rummi atas Mu
Seperti dzikir cinta Rabiah yang terus tersirat pada Mu
Seperti kokohnya rindu Yusuf diantara malam Mu
Ya Rabbi.. mohon ku, jadikan dua raga menjadi sejiwa menuju cinta Mu
dan Jadikan ini mahabbah yang akhir..

Ruang Putih ku, 22 Desember, 2012

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
    
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.." (QS. Ar-Rum : 20)




















Rabu, 21 Desember 2011

Regarding Love & Marriage

Idea          : Arvan Pradiansyah
Written by : Riri Artakusuma

Cinta ku sederhana. Bagai siang bertemu malam, Bagai bulan bersanding dengan sang bintang, selalu bersama mengiring untuk saling mengisi dan melengkapi. Sesederhana itulah setiap harinya dan kan selamanya perumpaan cinta yang kan ku beri pada mu.  –RA-

Sunguh sebuah pembuka hari yang sangat indah, ketika di Jum’at pagi ini saya kembali berkesempatan untuk mendampingi Arvan Pradiansyah, narasumber program Smart Happiness di smartfm. Bertepatan dengan ulang tahun sang istri, Mas Arvan, begitu saya biasa memanggil beliau, mengajak saya untuk membahas  tentang cinta dan pernikahan dengan topik “Regarding Love & Marriage”. Sungguh topik yang saya yakini tak hanya indah di telinga saya, namun juga di telinga para pendengar setia smart happiness.

Sebelum membahas topik ini, saya sempat melihat wajah Mas Arvan penuh dengan mata yang berkaca-kaca. Nampak haru rupanya, beliau merefleksikan cinta dan pernikahannya dengan sang istri tercinta. Apalagi setelah lagu “Through Years by Kenny Rogers” di putar sebelum perbincangan di mulai, nampak air mata itu semakin terlihat. Namun lebih jauh saya tidak akan membahas suasana haru tersebut. Saya ingin menuliskan apa yang telah saya dengar dan dapatkan pagi ini.

Ada seorang bijak yang mengatakan “the highest happiness on earth is marriage”. Pernikahan merupakan jalan yang baik untuk menyempurnakan hidup. Karena dengan menikah dua pasang manusia bisa saling melengkapi.  Mungkin ada yang tidak setuju dengan pendapat ini, bahwa menikah merupakan jalan menyempurnakan hidup dan saling melengkapi. Tak apa. Silahkan saja, karena menikah atau tidak itu berpulang pada pilihan masing-masing. Namun, karena saya sebagai muslim, saya meyakini bahwa menikah adalah suatu jalan yang sangat dicintai, tidak hanya oleh Tuhan saya tapi juga manusia termulia yang saya junjung tinggi, Muhammad SAW.

Bahkan saking karena menikah merupakan sunnah nya yang sangat dianjurkan, beliau mengatakan “An-nikahu sunnati, Faman raghiba assunati falaysaa minni. – Menikah adalah sunnah ku, maka siapa yang tidak menjalankan sunnah ku, maka dia bukanlah bagian dari ummat ku..”. Saya pun meyakini bahwa Tuhan punya maksud yang lebih maknawi, dengan menganjurkan ummat nya untuk menikah. Bukan sekedar untuk berbagi cinta, lebih dari itu adalah untuk melengkapi kehidupan kita yang secara lahiriyah memang ditakdirkan tidak bisa hidup sendiri. Kembali kepada perbincangan saya dengan Mas Arvan pagi ini, tentang sebuah pernikahan, bahwa ada 5 point yang mesti diperhatikan untuk mencapai sebuah perkawinan yang bahagia.

1.   Perkawinan yang bahagia sesungguhnya bukanlah perkawinan yang tanpa masalah
Tidak ada sebuh perkawinan yang hadir tanpa masalah. Bahkan kita hidup didunia ini sudah satu paket dengan sebuah masalah. Apalagi sebuah perkawinan. Hal ini mesti disadari karena memang sesunguhnya perkawinan hadir dari dua orang yang berbeda. Berbeda watak, berbeda culture. Jadi hampir tidak mungkin jika perkawinan tanpa masalah. Perkawinan yang bahagia itu adalah perkawinan yang bisa menyelesaikan sendiri semua persoalan yang dihadapi dengan cinta dan kepercayaan. Karenanya perkawinan harus dibangun dengan sebuah kedewasaan diantara keduanya (suami & istri).

2.     Sebuah perkawinan hanya bisa bertahan jika ia melahirkan cinta kedua
Dalam perkawinan harus ada 2 cinta. Cinta pertama adalah cinta birahi dan cinta yang kedua adalah cinta yang universal. Dalam bahasa arab dikenal dengan mawaddah dan rahmah. Perkawinan awalnya mesti dilandasi mawaddah terlebih dahulu. Karena jika tidak diawali mawaddah maka tidak mungkin perkawinan itu menjadi sesuatu yang menarik dan menggairahkan. Namun begitu jika dalam perkawinan cinta tersebut tidak berkembang menjadi rahmah, menjadi cinta yang universal, maka perkawinan tersebut akan bercerai. Cinta birahi sifatnya hanya mementingkan diri sendiri dan ia akan mudah memudar, sedangkan dalam perkembangannya seharusnya dalam perkawinan mesti dikembangkan cinta yang lebih tulus, tanpa pamrih, cinta yang berusaha memberi bukan meminta. 

3.     Hadiah terbesar oleh seorang ayah kepada anak-anaknya adalah mencintai ibu mereka
Jangan pernah anda mengatakan mencintai anak-anak anda, jika dengan ibu mereka saja anda tidak sayang. Dalam sebuah penelitian membuktikan, bahwa seorang anak yang melihat ibunya diperlakukan buruk oleh ayahnya, itu akan jauh lebih membuat diri si anak terluka daripada jika dirinya sendiri diperlakukan buruk oleh ayahnya. So, renungkanlah kalimat ini.

4.     Perkawinan itu sesungguhnya adalah perjanjian di depan Tuhan
Pesan terbesar dari point ke 4 ini adalah, bagaimana sepasang suami dan istri mampu untuk menjaga komitmennya dalam sebuah perkawinan. Komitmen dalam perkawinan bukan semata-mata perjanjian di hadapan manusia, tapi juga di hadapan tuhan. Bahwa seorang istri ataupun suami berjanji untuk menjaga perkawinan selamanya sampai mati. Jika saja komitmen dengan tuhan ini diabaikan maka bagaimana dengan komitmen-komitmen lainnya? Apakah orang yang tidak menjaga komitmen, mampu di percaya??

5.     Ujian dari sebuah perkawinan adalah sebuah kesempatan
Apakah anda setia dengan pasangan anda, akan di uji dengan berbagai kesempatan-kesempatan. Mintalah pada tuhan untuk menutup kesempatan-kesempatan yang membuat anda tidak setia dengan pasangan anda.

Itulah 5 poin yang kami perbincangkan pada pagi ini, tentang bagaimana perkawinan yang bahagia. Saya ingin menekankan bahwa apa yang saya dan Mas Arvan perbincangkan pagi ini, dengan menjabarkan kelima poin diatas, adalah merupakan penambahan khasanah pengetahuan saja, bagaimana agar perkawinan bisa selaras dan berjalan bahagia. Masih banyak referensi-referensi lainnya yang mungkin bisa anda dapatkan untuk lebih memahami dan belajar membina keluarga dan perkawinan yang tidak hanya sakinah, namun juga mawaddah wa rahmah.

Sebuah pengetahuan yang sangat baik sekali untuk bisa kita aplikasikan di kehidupan, terutama bagi anda yang memang sudah menikah. Semoga sedikit rangkuman ini bisa menambah pengetahuan anda untuk lebih baik menjaga kualitas cinta dan kasih sayang anda dalam perkawinan bersama dengan pasangan anda. Lantas, bagaimana dengan yang belum menikah?. Jadikan apa yang kita ketahui saat ini sebagai bekal untuk bisa kita aplikasikan kelak kita menikah dan hidup dalam sebuah perkawinan bersama pasangan kita. Dan sungguh sebuah kata yang bijak sekali, yang disampaikan oleh Mas Arvan, bahwa “janganlah anda mencari pasangan yang tepat untuk diri anda, namun jadilah pasangan yang tepat bagi pasangan anda saat ini, dan selamanya”.

The happiest Marriage is if you are falling in love many times and always with the same person –Arvan Pradiansyah-

"Kehidupan rumah tangga adalah kehidupan “kerja”. Ia diwarnai oleh beban-beban dan kewajiban-kewajiban. Landasan rumah tangga bukan semata kesenangan dan romantika, melainkan tolong menolong , saling menyempurnakan, saling mengasihi, dan saling membesarkan hati untuk menanggung beban hidup"  -Hassan Al-Banna-

Semoga bermanfaat!! 

Rie
Grha Mandiri, Jum'at, 12 Agustus 2011, 12.30

Kamis, 15 Desember 2011

Ketika Cinta Saja Tidak Cukup

 
Sahabat ku, ketika kau ingin menjadi wanita yang dicinta, ketahuilah bahwa cantik saja tidak cukup. Mengerti, itu lebih dari sekedar cinta

Sahabat ku, ketika kau ingin menjadi wanita yang dicinta, ketahuilah bahwa cantik saja tidak cukup. Perhatian mu terhadap orang yang kau cinta dengan kadar yang terus bertambah setiap harinya, itu lebih dari sekedar pelepas dahaga.

Sahabat ku, ketika kau ingin menjadi wanita yang dicinta, ketahuilah bahwa kulit putih dan paras cantik wajah mu saja tidak cukup, tapi ketulusan mu dalam ikatan hubungan, itu seperti indahnya bintang ketika bersanding dengan terangnya bulan.

Sahabat ku, ketika kau ingin menjadi wanita yang dicinta, ketahuilah bahwa cantik mu saja tidak cukup. Keikhlasan mu menerima segala lebih dan kurangnya dari lelaki yang kau cinta, seperti halnya air sungai yang terus mengalir ke hilir, hingga terus menjadi jernih dan menjadi baru.

Sahabat ku, ketika kau ingin menjadi wanita yang dicinta, ketahuilah bahwa cantik saja tidak cukup. Kebersahajaan mu akan memperindah dirimu dan kasih dalam hubunganmu.

Sahabat ku, ketika kau ingin menjadi wanita yang dicinta, ketahuilah bahwa cantik saja tidak cukup. Lemah lembutmu akan menjadi penawar yang paling mujarab disaat pasanganmu resah dan gundah.

Sahabat ku, ketika kau ingin menjadi wanita yan dicinta, ketahuilah bahwa cantik saja tidak cukup. Kesederhanaan mu akan selalu membuatnya bersyukur ketika bersanding dengan mu.

Sahabat ku, ketika cantik saja tidak cukup, adalah satu harapan bahwa kesederhanaan, kebersahajaan, keikhlasan dan pengertian, menjadi penghias hubungan mu yang indah dengan orang yang kau cinta. Semoga kau temukan senyum yang tak pernah pudar dari orang yang kau cinta, seperti bahagianya Ali atas senyum kesabaran dan keikhlasan Fathimah.

Ruang putih ku, Desember 16 2011.





Jumat, 09 Desember 2011

Angka

 
Ku tak ingat bagaimana saat dunia menyambut kehadiran ku..
Tapi ku yakin dia tersenyum
Ku tak tahu bagaimana pertama kali ibu memeluk ku..
Tapi ku yakin rasa itu hangat sekali
ku tak mengerti bagaimana semesta ini berharap atas ku..
Tapi ku yakin mereka mendoakan kebaikan bagi ku..

Hari ini tambah angka dalam hidupku..
ku merenungi tapakan hidup ku yang lalu..
Bagaimana seisi dunia ini dan sekelilingku begitu bahagia menyambutku kala itu..
Doa dan harap kebaikan di limpahkan atas ku..

Ya Allah..
Ku tahu ini bukan sekedar bertambahnya angka..
Tapi lebih dari itu, ku di ingatkan apakah aku telah menjadi pribadi yg punya makna..
Pribadi yg tidak hanya baik bagi sekeliling ku.. Tapi juga bagi MU..

Ya Allah..
Jikalau KAU masih memberikan tambahan umur dalam hidup ku..
Berikanlah keberkahan dan manfaat.
Hiingga aku menjadi manusia yg membahagiakan seperti bahagianya semesta menyambut ku saat ku buka mata melihat dunia..

Teruntuk sahabat ku Fathir,  "Met Milad, Barakallah!"